Pernah suatu saat kira bunyi kayak gitu tinggal nengok ke lantai. Gempa kan dari situ. Lantai goyang, baru sah. Lalu Jumat malam 4 September, cara orang denger bunyi itu bergeser. Kaca yang kerja. Pintu ikut. Tanah diam. Aneh? Ya. Otakku memang agak aneh, tapi malam itu yang aneh bukan cara aku ngeliat. Yang aneh bunyi yang datang dari jendela sementara lantai rumahnya libur.
Aku gak di Bandung malam itu. Jadi aku gak punya cerita “aku bangun, aku berdiri, aku nunggu yang kedua.” Yang sampe ke aku cerita orang. Rekaman. Chat yang nanya ini gempa atau bukan. Ada yang denger di Serang. Ada yang di Pandeglang. Ada yang dari perahu, lava naik, hujan batu. Pagi-paginya, teras orang di Jakarta Selatan udah duduk abu.
Ambil yang paling gampang. Abu di kaca mobil. Hurufnya kelihatan. Orang nulis, iseng, karena abunya cukup tebal buat jadi papan, cukup halus buat masuk sepatu. Bukan debu sapu yang ilang kalau diembus. Ada yang batal jalan pagi karena kap motornya bisa ditulis. Itu Jakarta Selatan, 5 September, gunungnya masih nyembur dari selat. Bogor juga kaget, mobilnya penuh debu pagi-pagi.
Tapi analogi kaca bunyi tanah diam itu masih terlalu rapi. Masih kayak judul. Mungkin lebih enak kalau kita lihat yang emang kerja dari malam itu.
Yang kerja di selat Anak Krakatau. Pukul 23.07. Bukan letusan satu kali trus selesai. Lava fountain, merah terus, gemuruh. PVMBG nulis durasi gempa letusan 21.600 detik, amplitudo 70 milimeter, kata mereka paling kencang sepanjang 2026. Kadang petir di awan abu. Kadang cahaya merah yang orang rekam dari Anyer, dari perahu, dari yang jauhnya cuma kebagian langit. Kolom abunya orang bilang belasan kilometer. Ada yang dari satelit nulis 50.000 kaki. Fase menerusnya, kira-kira 25 jam, berhenti 6 September dini hari, jam 00.04. Habis itu masih ada susulan. Senin ini masih. Kadang Pos Pasauran gak liat kolomnya karena kabut. Status tetap Level III Siaga. Radius tiga kilometer. Jangan deket.
Ada yang kasih julukan Bocil Krakatau. Habis itu ya gunung. Dia tumbuh di lubang yang pernah merobek langit tahun 1883, lalu runtuh lagi 2018. Kerucutnya sekarang, kata Badan Geologi, masih kecil. Gak kayak 2018. Laut, kata BMKG, belum aneh. Orang pantai tetap jaga anak. Wajar. Laut gak perlu aneh dulu biar orang jaga anak.
Sabtu masih nyembur. Minggu BMKG liat dua klaster abu di satelit. Yang satu, sampe 20.000 kaki, ke Jakarta, Banten, Jawa Barat. Yang satu, sampe 50.000 kaki, ke Lampung, Bengkulu, Samudra Hindia. Anyer kena di bibir pantai. Orang Lampung nutup ventilasi. Cirebon disuruh masker. Senin pagi, 7 September, abu masih ada, cuma arahnya bergeser. BMKG bilang ke barat, 15 knot, kira-kira 28 kilometer per jam, ketinggian sebaran permukaan sampe 15.000 kaki. Di peta potensi, Jateng ikut disebut. Angin gak nunggu rapat.
Sekolah. Bukan cuma Jakarta. Banten, Jawa Barat, Lampung, Depok, Bogor. PJJ. Bukan libur. Rumah yang terasnya berabu jadi kelas. Anak tetap masuk, cuma gak lewat gerbang. Sebagian dinas bilang dua hari dulu, sambil liat angin. Kepala Dinas Pendidikan DKI, Nahdiana, sempat ngomong PJJ bukan berarti kegiatan dihentikan. Ya. Yang dihentikan cuma gerbangnya.
Bandara lebih ribut dari gunungnya, setidaknya di HP. Sempat delapan yang ditutup. Soetta. Halim. Radin Inten II. Husein Sastranegara. Budiarto Curug. Pondok Cabe. Taufik Kiemas di Pesisir Barat. Atung Bungsu. Giliran. Jamnya digeser, diperpanjang, ada yang buka pagi, ada yang masih nutup sampe sore. Paper test. Kertas di bandara, pagi masih ketemu abu. Mesin pesawat ditutup kain. Yang dari Makassar batal. Yang dari Jogja ada yang dipindah ke rel, kereta ditambah. Tas numpuk di gandengan. Kursi bandara gak didesain buat tidur. Orang tidur di situ.
Angkanya berganti baju. Kompas sempat nulis sekitar 263.000 orang gak jadi terbang. InJourney, yang pegang empat bandara besar, nulis 268.539. Kemenhub nulis kira-kira 2.300 penerbangan, 270.337 orang. Aku gak tau cara mereka ngitung. Berapa yang beneran mandek di terminal, berapa yang batal dari rumah, berapa yang cuma jadi statistik karena slotnya hilang. Yang kelihatan di rekaman ya papan jadwal berganti batal, petugas yang suaranya udah aus, orang nunggu. 270.000 itu besar. Cuma di HP dia kalah rame sama dentuman yang tanahnya diam.
Nah, dentuman itu. Dua kantor jawab, gak bareng.
Suaidi Ahadi di BMKG Bandung bilang jauh, bukan Krakatau. Stasiun di Lembang diam. Cimandiri diam. Kalau gempa biasa, tanah ikut. Ini kaca. Dia sebut skyquake. Dia sebut metana dari danau purba. Dia sebut belum terjawab. Dia juga nanya, kenapa yang denger Bandung Raya, Jakarta dan Banten gak ramai lapor. Lana Saria di Badan Geologi bilang waktunya cocok sama erupsi. Gelombang akustik. Infrasound. Kaca boleh getar tanpa tanah ikut. Yang terasa di Bandung, kata dia, 700 kilometer garis lurus, dentuman, kaca dan pintu. Rita di PVMBG nambah: energi akustik gunung bisa nyampe ratusan kilometer. Kelud 2014 kedengeran jauh. Tahun 2020, waktu Anak Krakatau nyembur, Jakarta-Bogor-Depok juga denger.
Jadi satu pihak pegang bukan. Satu pihak pegang bisa. Dua-duanya kantor negara. Dua-duanya gak bodoh. Kamu yang di rumah, kacanya kemarin bunyi, disuruh pilih. Padahal kacanya gak nunggu rapat.
Beeuhhh. Sulitnya. Orang gak tahan dua mulut. Gunung keknya terlalu sederhana. Terlalu deket. Gak ada yang pegang. Jadi orang isi. Isi yang lebih rapi dari lava, lebih lengkap dari abu di teras. Aku liat itu di timeline. Aku gak ikut nambah. Aku gak ada di depan jendela yang bergetar. Yang gak ada di depan jendela biasanya paling gampang nambahin kalimat.
Senin ini sebagian bandara masih hitung jam. Status gunung tetap Siaga. Radius tiga kilometer. Jangan deket. Abu masih bisa nulis di kaca. Sekolah masih di layar. Itu yang bisa dipegang. Sisanya biar orang yang gajinya dari sensor.
Kaca di rumah yang kemarin getar, barangkali udah berhenti. Abu belum. Masih di teras. Masih di kap yang kemarin pagi kira cuma debu.