Pagi-pagi di Lasem, anak bilang ke gurunya: Pak, saya diare. Satu orang. Gurunya kira perut biasa. Lalu yang lain ikut ngomong. Bukan serentak kayak koran. Kayak kelas yang mulai ramai, satu meja, dua meja, terus toilet gak muat. Kepala sekolah yang cerita. Aku cuma dengar. SMAN 1. Rembang.
Pagi itu yang kelihatan cuma antri ke belakang. Ada yang masih di kelas, ada yang sudah gak bisa nahan. Baru belakangan orang susun: 752 siswa, 25 guru. 777. Angka itu rapi. WC-nya gak.
Makanannya ayam bakar. Ada orang yang nyicip sebelum dibagikan. Sebagian ayamnya berlendir. Yang kelihatan lendirnya disisihkan, kata mereka. Yang gak kelihatan ya sudah, masuk piring. Dapur bilang dimasak jam tiga pagi. Dimakan siang. Jam tiga sampai jam makan siang itu lama. Kalau kamu yang nunggu di kelas, lama. Kalau kamu yang bikin spanduk, gak terasa.
Sebelum Lasem, Sidoarjo. Selasa. Ponpes Manbaul Hikam, Tanggulangin. Habis zuhur. Bukan masakan pondok. Kiriman SPPG Kalitengah, dekat rel. Sore UKS ramai. Malam ambulans. Awalnya orang hitung ratusan. Ada yang sempat teriak ada santri meninggal. Emil Dardak bilang tidak. Aku percaya yang dicek, bukan yang viral.
Jumat, Dinkes Sidoarjo: 748. 728 pulang. 20 masih inap. Kepala SPPG dicopot. Dapur disuspend. Tersangka belum ada. Fokus korban, kata orang yang pegang dapur. Boleh. Korban memang lebih dulu. Cuma aneh, korban sudah ratusan, kata investigasi masih terdengar seperti orang yang baru buka laci.
Lalu Agam. Nganjuk. Tana Toraja. Seminggu ini banyak mulut kena. Ada yang nulis hampir dua ribu, tiga hari, sebagian besar anak. Aku gak butuh dua ribu. Aku sudah cukup di ayam yang berlendir dan toilet yang kalah. Dua ribu cuma nunjukin: bukan satu dapur iseng. Banyak dapur, satu nama.
Wowo pas itu baru pulang. Vladivostok. Minta maaf ke Putin, gak hadir KTT Juni, ada urusan dalam negeri. Bayar utang dengan datang. Bawa pulang rencana pabrik urea. Di Hambalang rapat, 290 BUMN ditutup, hemat lima puluh triliun, mau 700 sampai Desember. Rapi. Di Lasem yang rapi cuma antrian. Maaf ke Putin kencang. Ke yang muntah, masih suspend.
Jumat, orang demo di depan KBRI Kuala Lumpur. Can't breathe. Minta nama perusahaan. Semeru hampir 1.900 hektare, pendakian ditutup dari 26 Agustus. Aku gak pindah bahas asap dengan panjang lebar. Cuma: negara gampang nutup yang rugi. Negara pelan banget nutup yang merebus.
Nanti ada yang bilang kan sudah disuspend. Suspend itu jeda. Dapur istirahat. Program gak. Aku dengar kalimat itu Agustus. September cuma pindah WC.
Aku gak anti anak dikasih makan. Aku capek aja nama suci yang merebus jam tiga, diantar jauh, dimakan siang, terus orang di atas lebih cepat rapat efisiensi daripada nulis satu nama di bawah 777 orang. Kalau nanti ada tersangka, bagus. Kalau gak, ini bakal jadi arsip. Arsip yang ditelan bareng lauk. Lalu disuruh alhamdulillah. Gratis.