2026-08-31

Kartanu seumur hidup, PBNU bukan NU

NUPBNUKartanu
31 Agustus 2026, Tambakberas, Jombang. Wowo dapat Kartanu seumur hidup. Rais Aam yang nyerahin. Ketua umum baru di samping. Gus Yahya yang kabarin kartunya sudah jadi. Wowo bilang: beberapa hari lalu dikabari, makanya datang. Janji ditepati karena kartunya jadi. Kalau kartunya gak jadi, janji itu pulang ke istana. Di bawah kartu tertulis anggota seumur hidup. Luar biasa, katanya. Kehormatan. Kita akan angkat jutaan dari kemiskinan, sudah dibuktikan dua tahun pertama. Kartu sebagai stempel kerja sama.

Aku lahir NU. Garis ibu. Mbah ulama yang disegani di kares Pekalongan. Bukan NU panggung. NU haul dan tahlil. Makanya aku malu. PBNU bukan NU. PBNU alat. Kartu seumur hidup itu cap. Simbol terang: organisasi umat sudah selesai dinegosiasi.

Sebelum muktamar, Tempo Bocor Alus sudah tayang. 29 Agustus, premiere. Paket pimpinan. Calon Rais Am dan Ketua Umum. Pejabat dan orang dekat Wowo diduga berupaya mengegolkan, meski Wowo mengaku gak cawe-cawe. Edisi 30 Agustus: Orang Istana di Mimbar Ulama. Tangan penguasa dalam muktamar. Raymundus Rikang. Rekam jejak sejak Orde Baru: muktamar NU jarang murni urusan kiai. Budi's blog nulis laporan utama Tempo: orang sekitar Wowo mengegolkan paket yang direstui istana, manfaatkan konflik elite setelah soal tambang. Gus Dur bilang jauhi kekuasaan. Selama pembesar NU sedia dikooptasi, seruan itu angin lalu.

Tebakan bocor alus, kata orang, gak meleset. Gus Kikin, Abdul Hakim Mahfudz, ketua umum. Miftachul Akhyar rais. Paket. Aku gak perlu jadi insider. Urusannya sudah tua. Tambang, kursi, restu. Wowo buka muktamar 27 Agustus, utang kartu ke Gus Yahya, janji datang penutupan kalau kartu diberikan. Datang. Dapat. Selesai.

Pria solo dulu cawe-cawe parpol. Muridnya belajar ke ormas. Beda seragam. NU yang kugendong dari kecil menjauhi istana. PBNU mendekat sampai dapat kartu. Aku gak suruh orang keluar NU. Aku suruh orang bedakan jamiah dan papan nama. Yang malu itu sehat. Yang tepuk tangan waktu kartu diserahkan, itu segan versi jas. Panggungnya mahal. Isinya sama: gelar dikira surat suci.

Ada yang bilang: biarkan, ini politik, semua ormas begitu. Ya. Semua begitu. Itu justru masalahnya. Kalau semua begitu, yang tersisa cuma yang gak punya kartu. Umat yang haulnya gak ditonton istana. Mereka gak bisa cabut ke ruang VIP kalau acaranya dingin. Yang di panggung bisa. Kursi sudah empuk, lompat ke kartu, air gak enak tinggal pulang.

Aku masih NU di dapur. Di PBNU, aku tamu yang gak dapat undangan. Gak apa. Tamu kadang lebih jernih karena gak duduk di meja.

2 menit, malu