Aku gak mau bahasa diplomat. Ini bukan perang. Perang mengandaikan dua pihak yang setara pilih senjata. Ini penjajahan. Ini genosida. Siapa yang masih cari kalimat tengah sedang mencari kursi, bukan kebenaran.
Agustus 2026. Gencatan yang diiklankan Amerika masih bolong. Gudang di az-Zawayda kena rudal. Anak empat tahun tewas, Muhammad Abdel Salam Taha. Enam lain luka. Dua orang tewas di Salah al-Din. Netanyahu ancam serangan lebih besar karena layang-layang, drone, balon. Hamas bilang itu mainan anak di kamp. Saksi di lokasi, Abu Ahmed, bilang gak ada gencatan. Kita ingin hidup. Times of Israel sendiri nulis: militer Israel gak temukan yang mencurigakan di layang-layang itu. Ancaman tetap keluar. Alasan gak perlu barang bukti. Alasan perlu podium.
AS dan Israel gak ada posisi moderat di sini. Moderasi itu kosmetik orang yang gak di bawah rudal. Board of Peace, utusan Mladenov, peta 20 poin Trump, reconstruction ditahan sampai Hamas dilucuti, tenda masih ditembak. Israel belum setuju pasukan internasional masuk. Gak ada rekonstruksi sebelum dilucuti, kata kantor perdana menteri. Sementara Erez Crossing janji September, scanner Jerman, laporan dibantah. Itu bukan damai. Itu administrasi penjajahan.
West Bank gak kalah. Qalandiya dikepung. Permukiman baru, Emek Dotan, menteri dan anggota parlemen Israel taruh batu pertama. Ir Amim catat rencana ratusan unit di Umm Tuba, Umm Lison, perluasan Gilo. Tanah dipatok. Rumah orang jadi papan catur. Bukan dua tetangga ribut pagar. Satu pihak pegang jet, izin dewan, peta. Pihak lain dikepung, dilaparin, dilahirkan di blokade yang gak pernah mereka pilih.
Orang suka bilang versus. Israel versus Hamas. Kenyamanan orang jauh. Kenyamanan itu bohong. Yang di tenda itu rakyat. Yang pegang izin tembak itu negara. Jangan samakan orang di bawah runtuhan dengan orang di studio yang masih sempat pilih kata halus. Anak di Gaza gak pernah ditanya mau lahir di kepungan atau tidak. Dia lahir, lalu dihitung sebagai angka, atau gak dihitung sama sekali.
Aku pro damai dari akar. Akarnya pendudukan. Bukan karena aku Islam lalu otomatis. Aku manusia. Kalau yang dibom anak, label agamaku gak ditanya dulu. Aku gak akan menempelkan arsip visual paling kejam di sini. Gak perlu. Yang kejam sudah cukup tertulis di berita yang boleh dibaca. Yang gak pantas dibuka, biar gak dibuka. Negara yang masih pakai kata konflik, seolah dua tetangga ribut, sedang mencuci tangan di wastafel yang airnya dari pipa yang sama dengan yang menutup makanan.
21 September nanti kalender bilang Hari Perdamaian Internasional. Kalender rapi. Orang di bawah rudal gak. Kalau damai hanya jadi tanggal, genosida hanya jadi opini. Aku menolak dua-duanya. Damai dari akar. Akarnya: cabut pendudukan. Bukan cabut kata-kata.