Dikira yang dibutuhkan perut? ini paru paru gw dah sesak nih!
MBGdapur
MBG. Tiga huruf. Dipasang di spanduk seolah perut anak satu-satunya organ yang boleh diurus negara. Bergizi. Gratis. Sendok. Senyum. Kamera. Aku gak anti anak dikasih makan. Aku anti negara yang tiba-tiba jadi dewa gizi, dapurannya berantakan, anggarannya gendut, dan di luar jendela orang batuk.
Mereka kira yang kurang itu perut. Stunting, protein, telur. Lalu lahir program jumbo. Nama suci. Isinya mesin. Mesin yang kebetulan berbentuk lauk.
Angka dulu, biar yang suka spanduk gak bilang aku cuma merengek. 2025 sampai 2026, orang yang gak digaji BGN ngetik total Rp 339.000.000.000.000. Tiga ratus tiga puluh sembilan triliun. Tahun 2026, Kepala Badan Gizi Nasional sendiri yang ngomong Rp 1,2 triliun per hari. Sehari. Aku sempat ketawa sendiri. Bukan ketawa kagum. Ketawa orang yang dengar harga nasi lebih kencang dari pemadam, lebih kencang dari lab, lebih kencang dari orang yang disuruh diam waktu langit kuning.
April. 1.789 SPPG disuspend. SLHS gak ada. IPAL gak ada. Zulhas: kalau enggak diperbaiki ya kita tutup. Dadan: yang bikin rame medsos, kita hentikan dulu supaya mereka perbaiki diri. Bahasa orang ketahuan, lalu nyalahin ramainya tetangga. Bandung Barat 1.333 pelajar serentak. Grobogan 803. Semarang, Majene, Cimahi, Aceh Selatan KLB. Proses ke dapur? Sepi. Program? Jalan. JPPI minta berhenti. Dari istana: masukan diterima, program gak berhenti. Terima kasih atas masukannya. Anak tetap antre. Infus tetap ramai.
Ada yang nulis puluhan ribu kasus keracunan sampai Agustus. Aku gak butuh ensiklopedia. Aku butuh satu dapur yang gak bikin murid pulang bawa selang. Negara tersinggung kalau programnya diejek. Negara gak tersinggung kalau anak kejang.
Temanku dulu fanatik 02. Gemoy. Coblos. Beberapa bulan lalu daftar pegawai SPPG. Jarak rumah ke tempat kerja 20 sampai 40 meter. Jalan kaki satu menit. Pengelolanya orang situ. Akamsi. Gak diterima. Katanya yang masuk orang dalam. Dia nelen ludah sendiri. Aku gak joget di atasnya. Cuma: yang dulu teriak ini programnya Wowo, sekarang gak lolos jadi tukang nasi di depan rumah sendiri. Gemoy gak mengurus meter.
MBG dari yang kulihat bukan program gizi. Program gizi gak butuh dapur tanpa sertifikat dan ratusan yayasan yang cabang-bercabang ke perangkat. ICW sudah ribut. CISDI ribut makanan yang sudah terlalu diolah. IDI ingatkan susu formula. Aku bukan mereka. Aku cuma masih bisa bedakan belatung dengan protein. Kalau ini korupsi, ya korupsi. Jangan dibungkus empati sampai anak muntah.
Orang masih nanya, kok kamu marah, kan ada yang kenyang. Kenyang itu bukan bukti bersih. Kenyang itu bukti ada yang masuk mulut. Yang masuk mulut bisa lauk, bisa bakteri, bisa angka yang dipoles. Yang kenyang semalam bisa sesak paginya. Yang bikin spanduk gak pernah antre di SPPG. Mereka rapat. Kalau menunya bau, mereka gak makan. Bisa pesan. Bisa pulang. Anak di sekolah gak punya pintu belakang. Dia lahir di jam istirahat yang sudah ditentukan orang. Jangan samakan yang bisa cabut dengan yang cuma bisa menelan.
Lalu perut ini, yang dikasih nama indah, hidup di pulau yang udaranya lagi murah. Aku gak pindah jadi ahli kabut di sini. Cuma lucu, kan. Spanduknya perut. Langitnya oranye. Sekolah disuruh makan bergizi, lalu daring karena batuk. Dikira yang dibutuhkan perut. Ini paru-paru orang sudah sesak. Telur di wadah gak menolong bronkus. Satu koma dua triliun sehari gak beli angin. Karhutla minta duit, MBG tetap kencang. Aceh, NTT, Papua minta duit, MBG tetap kencang. Kantong negara pura-pura copot. Kantong yang sama tiap pagi nyetak nasi.
Aku capek debat stunting sama ejekan. Stunting nyata. Dapur kotor juga nyata. Dua-duanya bisa hidup di program yang sama kalau yang diurus cuma foto. Wowo bisa pidato soal gizi. Pidato gak merebus. Yang merebus orang yang 20 meter dari rumah temanku, yang gak diterima karena bukan orang dalam.
Kalau suatu hari MBG dibela dengan kalimat yang penting jalan, aku sudah dengar. Jalan ke mana. Ke infus. Ke suspend. Ke yayasan. Ke perut yang disuruh bersyukur, sementara napas orang di seberang pulau dibayar lebih murah dari lauk.