2026-07-28

+62 ditolak, headphone menyala, tanahnya kita

BaliCanggunomad
Selasa. Seminggu ini Canggu lebih ramai di timeline daripada di aspal. Silent disco run. Headphone nyala, mulut diam, kaki ramai. Matahari belum naik, truk DJ di samping, 150 orang, ada yang bilang 120. Mereka lari di shortcut, kata panitia, “tidak banyak penduduk”. Penduduk yang “tidak banyak” itu yang bangun subuh, yang motornya terhalang, yang rumahnya jadi dekor Reels.

Pendaftaran 22 Juli. Perempuan Indonesia daftar. Ditunda. Pacarnya, nama Barat, nomor Barat, langsung masuk. Dia tulis itu. Orang lain ikut tempel screenshot. Form tanya kebangsaan. Ada yang ditanya: kamu orang Indonesia, dari Bali? Ya. Jawaban panitia, kira-kira: itu sebabnya kamu gak diterima. Sistem otomatis. Kami platform digital nomad.

Sistem otomatis. Aku suka alibi itu. Mesin yang rasis, manusia yang cuma admin. +62 salah format untuk “community”. Nomad, kata mereka, gak terikat kebangsaan. Lalu kenapa nomor lokal yang disaring? Entourage Bali, curated social community, travellers, nomads, expats, Bali's best spots. Brosur yang gak menyebut tetangga.

Dua orang Belanda. Imigrasi pakai inisial JAS, 35, ITAS kerja. HQV, 37, ITAS investor. Kamis malam 23 Juli, Ngurah Rai, ke Singapura, sebelum sempat dijemput. Jumat minta maaf di Instagram. Kami gak bermaksud. Ada orang Indonesia kok, hampir 25 persen tiket, bahkan mayoritas nomor lokal, kata versi lain. Klarifikasi yang bertabrakan sendiri. Kalau mayoritas lokal, kenapa formnya tanya bangsa? Kalau terbuka, kenapa ada yang ditolak karena nama?

Hendarsam Marantoko, Dirjen Imigrasi: negara dalam negara. Kalimat itu berat. Aku gak perlu mengulanginya sampai jadi slogan. Cukup: acara tanpa izin, WNA yang gak boleh jadi event organizer, ruang publik dipakai, warga disaring. Niluh Djelantik bilang ramah tamah bukan lisensi untuk merendahkan. Itu kalimat yang gak perlu headphone.

Polisi Badung, di satu versi, bilang gak ada larangan warga ikut, RSVP saja, kebetulan pesertanya banyak bule. Kebetulan. Aku sudah tua untuk percaya kebetulan yang berulang di form. Gubernur Koster, Minggu, janji tegas. Gak ada klub bule-only. Dia nyambungkan ke “Russian village” yang katanya sudah ditutup. Pola Canggu: datang, sewa, bikin komunitas, kira pulau ini ruang tamu pribadi.

Mereka lari jam setengah enam pagi. Jalan macet oleh orang yang gak tinggal di situ. Headphone biar gak berisik, kata panitia ke media luar. Gak berisik di telinga. Tetap berisik di hidup orang yang motornya gak bisa lewat. Silent untuk yang pakai alat. Keras untuk yang gak diundang.

Klub lari lain di Canggu dan Uluwatu katanya jeda dulu. Takut kena imbas. Bagus. Takut kadang lebih jujur daripada minta maaf. Sponsor, PT SIG, diundang imigrasi. Penjamin visa. Orang yang stempel ITAS sekarang ikut ditanya. Itu yang selama ini bolong. Bukan cuma dua orang lari. Ada yang jamin mereka boleh tinggal, lalu mereka bikin pesta di jalan orang.

Aku gak anti lari pagi. Lari pagi gak butuh kurasi kebangsaan. Canggu gak butuh DJ truk untuk jadi hidup. Yang butuh DJ truk adalah orang yang bosan, yang gajinya dolar, yang kira Bali set dekor. Mereka boleh datang. Mereka gak boleh menyeleksi tuan rumah di halaman tuan rumah.

Hari ini Selasa. Dua orang itu sudah di Singapura. Daftar cekal. Acara dijeda. Meme masih jalan. Besok Canggu tetap cantik di iklan. Yang gak cantik: rasa bahwa di tanah sendiri, nomor teleponmu adalah filter. +62, kode negara, tiba-tiba jadi sandi ditolak.

Kalau suatu hari ada yang bilang ini cuma salah algoritma WhatsApp, aku sudah dengar. Algoritma gak tanya “kamu dari Bali?”. Orang yang tanya. Orang yang kabur. Orang yang minta maaf setelah tiket pesawat terbit. Headphone mereka sudah mati. Jalan Canggu, mudah-mudahan, pagi ini bisa dilewati orang yang gak daftar.

3 menit, geram