2026-06-08

Taqlid itu bukan iman

taqlidNUPekalongan
Aku lahir di rumah yang berbau NU. Bukan NU yang muncul di televisi waktu muktamar, yang mikrofonnya mengkilap dan kartunya seumur hidup. NU yang di dapur. Di haul. Di mbah yang orang-orang segani di karesidenan Pekalongan, lima tujuh tingkat di atasku, ulama zamannya. Atmosfernya santri. Bukan santri yang dipajang di brosur. Santri yang tahu kapan harus nyium tangan, kapan harus diam, kapan “sami'na wa atho'na” keluar lebih dulu daripada “kenapa”.

Banyak sepupu perempuan mondok. Salah satunya dari paman, kakak ibu. Aku samarkan jadi Mbak Nela. Aku lebih tua dua tiga tahun, tetap aku panggil mbak. Begitulah Jawa. Umur kalah sama jalur darah.

Mei kemarin Padepokan Padang Ati di Buaran meledak. Pimpinannya, orang-orang panggil Gus Lim atau Gus Alim, inisial AKF, ditangkap subuh Iduladha. Enam santriwati berani lapor. Ada yang bilang puluhan, 23 sampai 25, dari orang Kediri yang datang jauh. Ada bayi. Ada cerita hamil lewat mimpi. Polisi pakai DNA. Narasi gaibnya runtuh. Kemenag buru-buru: itu padepokan, gak ada di EMIS, bukan pesantren resmi. Kop suratnya sih sok resmi. 350-an anak sudah mondok di tempat yang negara baru tahu setelah viral. Aku gak sedang mengetok palu. Dia tersangka. Pengadilan yang ketok. Aku sedang bicara soal kunci di kepala orang yang masih nangis untuk abah.

Nela pulang pondok. Main sama adikku, karena cewek. Adikku cerita ke aku: Nela nangisin abah, seolah kunci hidupnya ditangkap karena fitnah. Aku dan adikku dari awal merasa aneh. Jijik campur heran. Untuk aku, gak terlalu kaget. Aku dulu pernah mondok. Aku paham rasa jengkel kalau gurumu dijeblosin. Yang mengunci itu doktrin, bukan dalil. Dalil masih bisa dibuka. Doktrin sudah jadi lantai. Kamu jalan di atasnya sampai lupa lantai itu dipasang orang.

Lalu ketemu lagi, gak sengaja, di pernikahan sepupu yang lain. Aku orang Pekalongan kota. Acaranya di Bojong, kabupaten. Ada perjalanan. Cowok ikut rombongan lelaki plus tamu keluarga. Gak semobil dengan adikku dan Nela. Siang cerah, muka pesta, yang biasanya muka pesta. Sore, alas kaki ramai. Bukan satu dua jejak. Orang pada pulang. Hampir larut. Keluarga ikut balik. Adikku dan Nela yang tadinya mobil lain pindah ke rombonganku.

Di mobil keluarga besar selalu punya bahan. Entah kosong kayak Gibran atau garing kayak pria solo. Intinya ada. Topik berhenti sejenak. Nela “ckkk”, suara kecap sedih. Adikku tanya. Beralih ke Padang Ati. Di dalam mobil itu orang-orang bicara seolah kubu netral. Arahnya ke kiai alimnya. Aku orangnya blak-blakan. Harusnya lawan debat. Tapi hati dibalas hati, bukan ditabrak. Ditangkap pelan.

Aku tanya, kira-kira begini, ingatanku bukan rekaman: mbak, aku paham soal abah, paham soal tuduhan. Seumpama abah gak bersalah, terbukti fitnah, semua bukti bilang tidak, kira-kira mau apa? Para santri yang ngaku korban itu dihukum balik? Aku juga gak tega kalau guruku difitnah begitu.

Dia jawab: ya mesti. Tapi yang ngelaporin balik pasti bukan abah, karena abah orangnya ini... ini... berhenti. Sedih yang gak keluar. Lalu: pastinya kudu ada tanggung jawab. Sebelum dia lanjut aku selipin, biar yang gak nangis itu gak meledak: berarti ikuti proses hukum aja, seadilnya. Lalu aku balik: kalau DNA membuktikan abah yang melakukan, mbak mau apa? Dihukum kayak gimana? Diam. Gak bisa jawab. Jawabnya cuma gak mungkin.

Di hatiku itu sudah selesai. Bukan karena aku menang debat. Karena “gak mungkin” itu bukan dalil. Itu lantai.

Mobil sampai rumah nenek di kota. Rombongan turun. Rumahku jejeran nenek, sampingan, deket banget. Aku pulang sejenak. Malamnya ke nenek lagi. Nela belum pulang ke rumahnya. Aku masuk. Lanjut.

Aku bawa Gus Miek. Yang itu. Kiai pesen daging babi, suruh santri makan. Santri mau, kira hukum berubah karena yang nyuruh kiai. Ditampar. Babi tetap haram. Siapa pun yang nyuruh. Aku tanya Nela: kalau sampean, makan atau tidak? Ini perintah kiai. Dia: jelas, makan. Tanpa ragu. Aku lanjut: sampean ditampar Gus Miek, mbak, kalau sampean santri di cerita itu.

Lima detik. Proses. Lalu kira-kira: mungkin emang aku ne yang terlalu taqlid buta ke abah. Tapi aku masih belum bisa nerima.

Habis itu nabi-nabi. Yang ngomong sama semut dan jin itu Sulaiman. Rasulullah utusan, gak dikasih mukjizat itu. Lalu orang zaman now klaim ngobrol sama jin, kesaktian wali melebihi nabi. Logikanya penistaan. Yang laku malah karomah palsu. Ada hadis asli Rasulullah bilang suatu zaman ada wali yang karomahnya lebih dari mukjizat? Pikir. NU yang kugendong dari kecil bukan NU yang merawat itu. NU Gus Dur jauh. PBNU sekarang urusan kursi, aku tulis di catatan lain.

Tiga jam. Dia mondok empat lima tahun. Aku semprot pohon dua puluh tahun pakai botol parfum sekali semprot, harap mati. Gak akan. Kecuali racunnya radioaktif, itu bunuh yang nyemprot juga. Doktrin begitu. Malam itu kelihatan agak pulih. Omongannya longgar. Mereka bilang gak akan mikir sedalam itu. Sekarang, tanpa mentor, balik abah abah abah. Aku gak kaget.

Yang kujaga: nama korban. Bayi. Nela. Proses hukum. Yang gak kujaga: rasa segan pada gelar. Gelar bukan surat suci. Lembaga itu gak terdaftar. 17 tahun, kata orang, baru meledak karena bayi dan mimpi. Enam yang lapor, sisanya diam. Diam itu bukan bukti gak terjadi. Diam itu sering bukti lantai masih dipasang.

Ada yang nangis menolak pulang waktu dijemput. Dua tafsir. Yang satu: mereka nyaman, jadi tuduhan berlebihan. Yang dua: kunci di kepala, gak bisa bedakan penjara dan tempat aman. Aku gak pakai istilah bule di meja makan. Aku pakai yang kulihat di mobil: gak mungkin. Itu kunci.

Taqlid buta itu sub maksiat yang merapikan maksiat berikutnya. Kalau kamu masih bilang gak mungkin hanya karena dia yang ngajarin kitab, kamu sedang makan daging yang kamu kira sudah halal karena yang nyuruh pakai sorban. Gus Miek sudah tampar orang kayak gitu. Aku gak lebih alim dari Gus Miek. Aku cuma bekas pondokan yang masih ingat tamparannya.

AKF menyangkal. Kuasa hukumnya 52 pertanyaan, tidak benar tidak benar. Pengurus minta berita ditakedown. Sah, pembelaan. Pengadilan yang kerja. Aku kerja di kepala orang yang masih nyimpen kunci. Kalau kunci itu gak dicopot, korban berikutnya gak perlu padepokan baru. Cukup lantai yang sama, nama yang berbeda.

5 menit, berat