2026-05-23

Jumat malam copot, Sabtu pagi PLN masih konferensi

listrikSumateraPLN
Aku tulis ini Sabtu. Bukan karena aku di Medan. Karena semalam, dari Aceh turun, lampu ramai-ramai capek. 18.44 WIB. Maghrib belum selesai di sebagian tempat, lampu merah di persimpangan sudah jadi hiasan. Orang klakson. Orang nyalain senter HP. Orang yang jualan tutup lebih awal, bukan karena laris.

Dirut PLN Darmawan Prasodjo pagi ini konferensi. Cuaca buruk. Transmisi 275 kV Muara Bungo ke Sungai Rumbai, Jambi, keluar dari sistem. Terpisah utara dan tengah. Frekuensi naik di satu sisi, pembangkit otomatis padam. Frekuensi turun di sisi lain, pembangkit juga padam. Domino. Kata itu keluar dari mulut orang listrik, terdengar rapi. Di jalan, domino artinya gelap.

Ada pesan berantai kemarin, katanya PLN akan rawat jaringan 22 sampai 25 Mei, delapan sepuluh jam tiap malam. Manager PLN Kisaran, Harry Marbun, bilang hoaks. Lalu yang bukan hoaks datang tepat jam yang ditakuti orang. Aku tertawa kecil. Bukan lucu. Tertawa orang yang lihat ramalan palsu keburu jadi cuaca.

Pulih? Ada yang nyala lagi jam 22. Ada yang jam 2 dini hari. Ada yang Sabtu pagi masih bergilir. Aceh sempat hidup malam itu, pagi padam lagi, air ikut mati karena pompa. Riau barat hidup jam 6, padam jam 8. Orang yang rumahnya hidup dari tandon dan listrik, pagi ini gak mandi, atau mandi di sungai.

Itu yang gak masuk konferensi. Genset. Orang takut gelap, orang hidupin mesin di ruangan tutup. Dua pekerja toko di Batu Bara ketiduran. Karbon monoksida gak butuh sabotase. Di Tanah Datar, remaja hirup gas genset masjid. Ada yang tenggelam di sungai karena pompa rumah diam, anak itu cuma mau bersih. Polisi bilang gak ada sabotase. Aku percaya. Sabotase gak perlu. Cukup satu ruas, cuaca, dan sistem yang gak punya cadangan.

8,3 juta pelanggan, kata progres pemulihan. Angka sebesar itu terdengar seperti prestasi karena sebagian sudah nyala. Aku dengar sebagai pengakuan: semalam, jutaan orang dihitung sebagai gangguan. Bareskrim, Irjen Nunung, pastikan bukan sabotase. Bagus. Sekarang yang tersisa teknis. Teknis yang berulang. Sumatera sudah pernah gelap. Orang listrik sudah pernah minta maaf. Maaf gak menanam kawat cadangan.

Aku di Jawa, lampu menyala, dan justru itu yang bikin gatal. Kita biasa anggap pulau lain sebagai peta. Peta gak mandi. Peta gak antre di persimpangan tanpa lampu. Peta gak cium genset. Sabtu pagi ini peta itu bernama tetangga. Tetangga yang HP-nya 15 persen, signal aneh, ATM mati, warung tutup, kulkas ngambek.

PLN minta tenang. Jangan panik. Kalimat itu selalu datang dari orang yang masih punya senter dinas. Warga Medan, Padang, Pekanbaru, Jambi, Palembang, Banda Aceh, kemarin malam gak panik. Mereka jalan di gelap. Panik itu mewah. Yang ada cuma hitung langkah, hitung sisa daya, hitung anak.

Sampai tadi, Bungo, Merangin, Kota Jambi, Muaro Jambi masih disebut bergilir. Tiga hari, kata yang nulis ensiklopedia cepat. Jumat, Sabtu, Minggu. Libur panjang orang kantor. Gelap panjang orang yang pompa airnya listrik. Kepulauan yang jauh dari daratan utama, Natuna, Kepri, Mentawai, justru aman. Ironi kawat: yang tersambung rapat, copot bareng. Yang terpisah laut, hidup sendiri.

BPKN suruh gugat. Sah. Gugatan gak nyalain lampu tadi malam. Kompensasi, kalau datang, datang belakangan, dalam bentuk angka di rekening yang kemarin gak bisa ditarik karena mesinnya ikut mati.

Aku gak minta pidato. Aku minta orang yang gajinya dari kawat itu capek dulu sebelum minta maaf. Capek dalam arti: tanam jalur kedua. Jangan satu tulang punggung dari Jambi, lalu seluruh utara ikut sujud. Cuaca buruk bukan alasan abadi. Cuaca buruk di Sumatera bukan berita. Sistem tunggal yang kalah cuaca, itu beritanya.

Sabtu ini, sebagian sudah menyala. Sebagian masih giliran. Yang tewas gak menyala lagi. Konferensi pers menyala paling kencang. Begitu biasanya. Aku tutup tulisan ini sebelum sore, takut malam nanti ada yang kirim pesan berantai baru, dan kali ini bukan hoaks.

3 menit, gelap